Konflik Rusia Ukraina dan Wajib Militer

KONFLIK RUSIA-UKRAINA

Memanasnya hubungan antara Rusia dan Ukraina menjadi isu yang menarik untuk diikuti perkembanganya. Paman Putin mengirimkan ratusan ribu pasukan militernya diikuti dengan peralatan perang penunjang yang tentu sangat canggih ke perbatasan Ukraina.

Kabarnya hal ini terjadi karena adanya keinginan atau kemungkinan bergabungnya Ukraina ke geng terkuat di muka bumi yaitu NATO. Kremlin tentu tidak menginginkan hal ini terjadi, di samping menganggap Ukraina adalah saudara kandungnya yang harusnya memihak padanya, juga dengan bergabungnya Ukraina kedalam NATO tentu saja akan semakin melemahkan pertahan dan kemaanan perbatasan Rusia yang membuat tidur – tidur malam para comrade menjadi tidak nyenyak.

Mobilisasi pasukan dalam jumlah besar dan siap tempur di perbatasan – perbatasan Ukraian, tentu membuat pemerintah dan warga Ukraina ketar ketir, di tambah lagi pentolan utama NATO yaitu Paman Sam, terus menghembuskan isu bahwa Rusia akan melakukan invasi ke negara mereka, bahkan sampai menyebutkan tanggal invasinya. Luar biasa.

Paman Putin menyangkal adanya invasi dan berdalih hanya sedang melakukan latihan bersama dengan negara – negara sekutunya. Namun para pentolan – pentolan NATO lumayan heboh dengan mobalisasi ini, sehingga mereka mengirimkan pasukan – pasukan militernya dan paket – paket bantuan militernya ke Ukraina sebagai bentuk antisipasi dan pengaman dari invasi Rusia yang sewaktu – waktu bisa terjadi. Namun seperti yang kita ketahui, ‘tidak ada makan siang yang gratis’ tentunya.

Hal menarik lainya adalah ditengah ketakutan invasi dari saudaranya sendiri yaitu Rusia, para warga Ukraina secara sukarela mengikuti latihan – latihan militer yang diadakan oleh para veteran militer. Bahkan para sukarelawan berlatih menembak menggunakan senapan tiruan yang terbuat dari kayu. Para sukarelawan ini menjadi pasukan cadangan yang akan digunakan sewaktu – waktu diperlukan nantinya.

Berkaca dari konflik dunia yang sewaktu – waktu bisa terjadi terhadap negara manapun termasuk Indonesia. Apakah diperlukan bagi Indonesia untuk mengadakan wajib militer bagi warganya ?

Jawabannya sederhana, TIDAK PERLU 

INDONESIA DAN WAJIB MILITER

Wajib militer biasanya dilakukan di negara – negara yang warganya anti atau alergi dengan hal  - hal yang berbau militer, yang mengakibatkan sedikitnya minat warga untuk menjadi tentara. Hal ini tentu berbahaya bagi kemanan negara mereka sendiri, sehingga pemerintahnya memberlakukan wajib militer untuk memaksa warga negaranya memiliki kemampuan militer yang dapat di gunakan sewaktu – waktu dibutuhkan.

Lalu kenapa Indonesia tidak perlu ? 

Indonesia tidak perlu wajib militer karena dua faktor, pertama karena warga negara Indonesia sudah mempunyai karakter militer yang kuat dalam dirinya, kemudian yang kedua karena banyaknya waktu luang yang dimiliki masyarakat Indonesia atau jam kerja yang minim. Dua faktor ini kemudian menyebabkan masyarakat Indonesia dengan suka rela atau secara swadaya membentuk organisasi – organisasi dan lembaga – lembaga ‘paramiliter’ mereka sendiri.

Paramiliter adalah kumpulan warga – warga sipil yang dilatih dan diorganisir secara militer. Fungsinya serupa dengan militer profesional namun tidak dimasukan dalam bagian dari angkatan bersenjata secara formal.

Mereka yang bergabung biasanya membayar sejumlah biaya, membeli sendiri atribut-atributnya, membayar iuran anggota, dan mereka dengan sukarela dan gembira melakukanya. Luar biasa.

Contohnya adalah ormas – ormas atau kelompok – kelompok warga sipil disekitar kita yang melakukan pelatihan semi militer bagi anggotanya, dan juga berdandan atau berpenampilan layaknya anggota militer profesional. Kalian semua pasti sudah tahu. Outputnya, ada yang benar – benar menjadi pasukan cadangan (which is bagus kalau ini), ada yang menjadi pasukan pengaman bagi internalnya, bahkan ada juga yang menjadi kondangan hunter, menggunakan atribut militernya untuk dapat makan siang gratis di hajatan warga.

Hal lain juga berdampak kepada organisasi dan perguruan – perguruan bela diri di Indonesia. Berbeda dengan negara lain, yang pelatihan beladirinya di dalam gym atau dojo. Pelatihan bela diri di Indonesia hampir kebanyakan pelatihanya seperti layaknya pelatihan militer. Masuk hutan, tiarap di lumpur, jalan jongkok di sungai, dan lain lain.

Dalam pendidikan, semenjak dini juga mulai dikenalkan dengan beberapa organisasi yang secara sadar maupun tidak ada sedikit bentuk – bentuk pelatihan militer di dalamnya. Contohnya pramuka, paskibra dan lain – lain.

Karakter militeristik masyarakat Indonesia inilah yang terus sengaja dijaga dan dirawat di Indonesia. Dari pada mengadakan wajib militer yang biayanya sangat mahal, lebih baik melegalkan organisasi – organisasi dan kegiatan – kegiatan paramiliter seperti ini. Lebih hemat biaya dan juga sangat efektif. Begitu kira - kira.


"Pertanyaanya untuk kita adalah apakah kita benar – benar cinta damai, atau sebenarnya masyarakat kita suka dengan perang – perangan  ?"

Salam.




Artikel Sebelumnya
Related Post :
Rubrik