Kamus dan Reshuffle Kabinet


Kementerian pendidikan di sebuah negara di katulistiwa kembali membuat heboh dan menjadi sorotan publik. Kementerian ini seperti tak henti - hentinya diterpa isu dan polemik - polemik baru beberapa waktu belakangan ini.

Pada September tahun 2020 lalu, kementerian ini diterpa isu bahwa akan menghapus pelajaran sejarah dari kurikulum pendidikan negaranya. Isu ini kemudian dibantah oleh sang menteri. Beliau mengatakan bahwa pelajaran sejarah merupakan komponen penting bagi negaranya. Beliau juga mengatakan bahwa isu ini adalah salah satu pembahasan internal yang memang tengah di bahas kementerian tersebut, yang entah mengapa bocor kepublik.

Enam bulan semenjak polemik tersebut, kementerian ini kembali diterpa isu yang sama. Masih tentang penghapusan mata pelajaran, hanya kali ini pelajaran agama yang akan dihapuskan. Tentu kementerian ini kembali  menjadi sorotan publik.

Isu ini menimbulkan perdebatan di kalangan para elite politik maupun masyarakat. Mengingat hal - hal yang bersinggungan dengan 'agama' merupakan sesuatu yang paling diutamakan di negara itu. Soal kemajuan pendidikan, ekonomi dan kesejahteraan sosial itu urusan belakangan. Masalah agama yang nomor satu.

Akhirnya kembali sang menteri memberikan klarifikasinya dengan mengatakan bahwa itu adalah disinformasi. Beliau memastikan bahwa pelajaran agama tidak akan dihapuskan dan isu penghapusan tersebut juga bukanlah berasal dari kementerianya. 

Dua polemik tesebut dapat dengan mudah terselesaikan hanya dengan klarifikasi yang dilakukan oleh sang menteri. Publik seakan merasa cukup dan dengan mudah menerima klarifikasi dari menteri ini atas polemik – polemik tersebut.

Tentu bukan tanpa alasan. Sang menteri memang selama ini dikenal sebagai pribadi yang baik oleh publik. Sosok anak muda yang membanggakan dengan inovasinya menciptakan startup yang memudahkan hidup masyarakat. Sekaligus membuka banyak sekali lapangan kerja. Sehingga dorongan besar agar beliau berada diposisi tersebut sepertinya juga datang dari publik itu sendiri.

Kesan baik dari publik mengenai pribadi sang menteri inilah yang lumayan membuat beliau kokoh di posisinya, meski beberapa kali diterpa angin kencang.

Kali ini lembaga kementerian pendidikan dari  negara katulistiwa itu kembali membuat heboh dengan polemik barunya.

Kamus sejarah negara yang diterbitkan kementerian itu luput atau tidak memasukan salah seorang tokoh nasional sekaligus tokoh agama paling terkemuka di Negara itu.

Sontak hal itu menimbulkan kemarahan publik yang sebagian besar adalah pengikut yang meneladani dan menghomati tokoh tersebut.

Banyak yang heran bagaimana mungkin tokoh sehebat, semasyhur dan penting bagi negara itu bisa tidak dimasukan dalam kamus sejarah bangsanya.

Sehingga banyak yang mempertanyakan sumber apa yang dipakai atau seleksi apa yang dipakai dalam penulisan kamus sejarah tersebut.

Hal paling penting dalam melakukan penulisan sejarah adalah sumber utama. Namun dalam kasus tokoh yang namanya tidak dimasukan ini. Ketika sejarahwan ingin menuliskan tentang beliau, para sejarahwan bisa menuliskanya bahkan tanpa perlu sumber sekalipun. Karena sudah sebegitu banyaknya literatur - literarur yang membahas mengenai eksistensi dan peran penting beliau bagi negara. Sungguh hal aneh, lucu sekaligus mengherankan.

Seperti biasa sang menteri kembali memberikan klarifkasinya. Beliau mengatakan bahwa rancangan kamus tersebut sudah ada pada periode sebelum beliau menjabat posisi itu. Beliau hanya melanjutkan dan menyempurnakan proyek tersebut yang sudah ada.

Beliau mengakui ada kesalahan dalam penerbitan kamus itu, bahkan bawahanya yang bertanggung jawab dengan proyek itu pun sudah mengakui bahwa alpa dengan tidak memasukan nama tokoh penting tersebut. Kabarnya kamus sejarah itu juga sudah ditarik dari peredaran.

Tinggal menunggu respon dan tanggapan masyarakat terhadap jawaban itu. Apakah puas dan memberikan kesempatan untuk merevisinya, atau justru malah akan membuat permasalahan ini semakin panjang.

Baca Juga : Jurus Kabur Sang Jenderal

Mari kita lupakan polemik ini sejenak.

Dinamika politik salah satu negara di katulistiwa ini memang tidak ada habisnya. Baru beberapa bulan lalu presiden negara itu mengatakan bahwa tidak ada reshuffle kabinet dalam waktu dekat. Namun saat ini isu reshuffle kabinet kembali mencuat dan bahkan semakin menguat.

Kabarnya akan ada 6 orang menteri dan 1 kepala badan yang akan diganti. Sejumlah nama - nama menteri yang terancam digantipun mulai muncul dan mulai diperbincangkan.

Reshuffle ini bisa saja terjadi karena mungkin ada beberapa  kinerja menteri yang dinilai kurang baik dan harus segera diganti  posisinya. Demi memberikan efek positif bagi pemerintahan saat ini.

Atau bisa juga mungkin karena memang sudah waktunya gantian makan “kue”. Sehingga semuanya bisa kebagian menyicipi "kue" yang sudah ada di meja.

Kembali lagi pada kementerian pendidikan tadi. Kabarnya nama sang menteri pendidikan disebut – sebut juga masuk dalam yang berkemungkinan besar untuk diganti posisinya.

Kalau kita hubungkan antar polemik yang sedang menimpa sang menteri dengan isu reshuffle kabinet yang kian menguat.

Asumsi yang timbul adalah bisa jadi polemik ini sengaja dimainkan untuk menguatkan alasan penggantian sang menteri dari jabatanya. Mengigat citra pribadi sang menteri yang selalu baik dimata publik, maka dibutuhkan sebuah citra yang buruk sebagai pemulus jalan penggantian posisinya.

Bisa juga dengan menguatnya isu reshuffle belakangan ini, ada pihak – pihak yang mengincar kursi menteri tersebut, sehingga ajimumpung malah ikut menunggangi polemik yang tengah di hadapi oleh sang menteri.

Asumsi yang sangat politis sekali memang. Namun dengan pertemuan antara sang menteri dengan salah seorang tokoh pemegang kendali politik terbesar dari negara itu. Beberapa saat setelah polemik ini muncul dan ditengah menguatnya isu reshuffle. Asumsi - asumsi politis ini tentunya menjadi tidak terelakan.

Dari yang kabarkan, pertemuan itu hanya membahas saran dari tokoh politik agar sang menteri meluruskan beberapa sejarah masa lalu. Karena selain  tokoh politik beliau juga dianggap negarawan senior oleh para politikus dan dimintai nasehatnya.

Namun tetap saja dimata awam politik , ketika terjadi pertemuan antara dua pihak yang berpolitik tidak lain dan tidak bukan yang ada hanya lobi – lobi dan kesepakatan. 

Sehingga pertanyaan jahilnya, sang menteri sedang meminta nasehat atau jangan - jangan sedang mencari suaka politik ?

Artikel Selanjutnya Artikel Sebelumnya
Related Post :
Rubrik