Jurus Kabur Sang Jenderal

Pemerintah melalui Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (Menkumham) pada rabu 31 Maret 2021 akhirnya menolak kepengurusan Partai Demokrat yang diajukan kubu KLB Demokrat Deli Serdang.

Pemerintah mempersilahkan kubu KLB Demokrat untuk menempuh jalur pengadilan dan menutup segala kemungkinan untuk permohonan pengajuan yang sama dari kubu yang sama. 

Memang belum sampai garis finish, tetapi dengan adanya sikap dari pemerintah sudah menunjukan titik terang penyelesaian drama perebutan kepemimpinan Partai Demokrat.

Lalu bagaimana dengan karir politik sang Jenderal setelah ini ?

Ada hal menarik yang sebenarnya saya simpan untuk babak akhir dari drama ini sekaligus membuat saya lumayan mengagumi beliau yaitu langkah dan strategi komunikasi politik sang Jenderal.

Seperti langkah kuda pada pertandingan catur Dewa Kipas melawan GM Irene.

Pada saat dewa kipas melangkahkan kudanya, langkah yang diambil bukan hanya untuk menyerang saja tapi dewa kipas juga menyiapkan langkah untuk kabur ketika sewaktu - waktu kudanya terancam atau diserang balik oleh musuhnya.

Pada detik - detik sang Jenderal di daulat oleh peserta KLB Deliserdang untuk menjadi ketua umum partai demokrat yang baru.

Saat itu beliau tidak ada di lokasi kongres tetapi hanya tersambung melalui komunikasi telepon. Karena hanya terdengar suaranya saja pada cuplikan video yang beredar dimedia.

Pada saat itu sang Jenderal memberikan tiga pertanyaan yang dijawab dengan gemuruh oleh seluruh peserta klb yang hadir.

Pertanyaan pertama adalah "apakah KLB ini sesuai dengan AD/ART  ?"

Pertanyaan kedua "seberapa serius kader demokrat meminta saya memimpin partai  ini ?"

Kemudian pertanyaan terakhir, "bersediakah kader demokrat bekerja keras dengan integritas demi merah putih diatas kepentingan pribadi dan golongan ?”

Setelah ketiga pertanyaan itu dijawab oleh seluruh peserta KLB, barulah sang Jenderal memberikan keputusanya untuk bersedia menjadi ketua umum partai demokrat yang baru versi KLB Deli Serdang.

Baca Juga : Bingung Kudeta Partai Demokrat

Apakah sudah menemukan hal yang menarik dari ketiga pertanyaan yang diajukan tadi ?

Yap. pertanyaan pertama yang diajukan oleh belaiu yaitu "apakah KLB ini sudah sesuai AD/ART ?"

Pertanyaan ini bak langkah kuda dewa kipas melawan GM irene tadi. Sedangkan dua pertanyaan lainya hanya pemanis yang semua politkus biasa lakukan.

Pertanyaan apakah KLB ini sudah sesuai dengan AD/ART yang diajukan oleh beliau dijawab seluruh peserta yang hadir pada kongres di Deli Serdang waktu itu sudah sesuai dengan AD/ART yang berlaku.

Sebuah komunikasi politik yang menarik dari sang Jenderal. Dengan mengajukan pertanyaan ini beliau seolah - olah sedang menyiapkan jurus kaburnya ketika terjadi sesuatu atau hal - hal yang tidak sesuai dengan apa yang telah direncanakan.

Dengan ditolaknya kepengurusan baru partai demokrat yang diajukan kubunya oleh Menkumham, bisa dikatakan usaha pengambilan kepemimpinan partai demokrat dari AHY hampir gagal total.

Hampir gagal, karena dengan ditolaknya kepengurusan baru  oleh menkumham, kubu KLB harus berjuang di pengadilan untuk menggugat AD/ART 2020 milik Partai Demokrat.

Jika gugatan dimenangkan oleh kubu KLB maka masih ada tambahan napas bagi beliau untuk kembali bertarung mengesahkan kepengurusanya. 

Namun apabila pengadilan memenangkan AD/ART partai dmokrat 2020, maka selesai sudah pamor politk sang Jenderal dan akan menjadi lumayan berat bagi beliau untuk mengembalikan pamor politiknya kembali.

Mumpung sedang berada di lingkar istana, sebaiknya beliau mendirikan partai politik baru saja dengan berbekal peserta dan seluruh jagoaan - jagoan politik yang ada dalam jajaran KLB Deli Serdang.

Dengan merapat ke poros politik yang sangat gemuk saat ini, saya rasa partai baru beliau bisa dengan cepat mendapat tempat dan bargain politiknya.

Atau pilihan terakhir, yakni menggunakan jurus kabur yang sudah dipersiapkan tadi dan meninggalkan gerbong KLB Deliserdang yaitu dengan bermain menjadi sebagai korban.

Sang Jenderal tinggal  mengatakan bahwa, sebelumnya beliau sudah menanyakan apakah KLB tersebut sudah sesuai AD/ART atau belum dan dijawab sudah sesuai oleh seluruh peserta. Sehingga beliau merasa tidak tahu menahu kalau akan seperti ini jadinya dan menyalahkan perserta kongres.

Sang jenderal kemudian akan memilih lebih baik diam. Karena jika beliau masih terlibat dengan permasalahan ini, maka akan semakin bertambah banyak desakan untuk pemecatan beliau dari poisi KSP. Mengingat beliau saat ini telah menjadi beban politik dalam pemerintahan presiden Joko Widodo.

Skenario menariknya adalah desakan pemecatan itu justru datang dari pihak AHY.

Dan prediksi 'abal - abal' saya bisa saja sang Mayor menggantikan posisi sang Jenderal menjadi KSP yang baru.

Bagaimana ?  sudah cocok ?

Artikel Selanjutnya Artikel Sebelumnya
No Comments :
Add a Comment
Comment url
Related Post :
Politik