Indonesia Memang Rawan Bencana




Akhir – akhir ini Indonesia sedang dilanda banyak sekali bencana alam di beberapa wilayahnya.

Beberapa wilayah di  Indonesia mengalami bencana banjir bandang, tanah longsor, angin puting beliung, dan lain lain. Keadaan ini disebabkan oleh cuaca extrem yang sedang melanda dengan curah hujan dan angin yang sangat tinggi beberapa waktu belakangan.

Kemudian di  beberapa daerah lain di Indonesia juga dilanda bencana alam berupa gempa bumi dan letusan gunung berapi.

Melihat bencana alam yang datang silih berganti pertanyaan besarnya adalah apakah Indonesia dan masyarakatnya  siap ketika sewaktu - waktu terjadi bencana alam ?

Sebelum itu jangan lupa kirimkan bantuan dan doa terbaik kita bagi saudara – saudara kita yang saat ini tengah mendapat musibah karena bencana alam.

A. Indonesia Memang Rawan Bencana

Indonesia memang wilayah yang sangat rawan akan bencana alam. Bank dunia pernah memasukan Indonesia kedalam satu dari 35 negara dengan tingkat bencana alam tertinggi di dunia. 

Tentunya hal ini bukan tanpa alasan. 

Secara geografis Indonesia merupakan daerah kepulauan  di daerah tropis yang diapit oleh dua samudera besar yaitu samudera hindia dan samudera pasifik yang memiliki keragaman iklim yang tinggi. 

Sehingga kondisi ini mengakibatkan beberapa wilayah – wilayah di Indonesia berkemungkinan untuk dilalui oleh cuaca – cuaca ekstrem. 

Indonesia juga berada di jalur ring of fire atau cincin api yaitu daerah yang berada diantara tiga  tumbukan lempeng benua. 

Keadaan ibi mengakibatkan Indonesia menjadi daerah yang rawan sekali mengalami bencana letusan gunung berapi, gempa bumi, dan tsunami. 

Pada musim panas di Indonesia terjadi kebakaran, baik hutan maupun pemukiman. Pada musim hujan di  Indonesia terjadi banjir dan tanah longsor karena beberapa daerah hutan yang seharusnya menjadi hutan hijau malah dijadikan pemukiman warga. 

Daerah kalimantan yang menjadi paru – paru Indonesia di babat hutanya untuk dijadikan daerah tambang, bahkan katanya dijadikan ibu kota baru. 

Memang ada juga sebagian daerah yang tetap berbentuk hutan tapi hutan industri. Ini kan sama saja. 

Ditanami pohon kemudian dalam kurun waktu tertentu ditebang dan kemudian ditanami lagi. Tidak lagi ada pohon – pohon kayu besar yang menyangga tanah dari air hujan. 

Disamping karena kondisi geografis dan terlepas dari perilaku buruk rakyat Indonesia terhadap alam. 

Mari kita bersepakat pada satu hal yaitu bahwa pada dasarnya Indonesia memang rawan bencana. Dari dulu, sekarang, dan masa yang akan datang akan tetap begitu. 

Kita sebagai rakyat Indonesia seharusnya tahu dan menyadari betul mengenai hal ini. 

Kemudian menjadikan penanganan dan antisipasi bencana alam sebagai prioritas utama atau salah satu hal yang urgent bagi kita sebagai bangsa yang hidup di daerah yang sangat rawan bencana alam.

B. Masyarakat dan Bencana Alam

Gambaran masyarakat Indonesia hari ini adalah selayaknya warga negara yang tinggal dinegara berkembang. 

Ditunjukan dengan tingkat pendidikan rata – rata masyarakatnya yang masih tergolong sangat rendah. Begitu juga dengan keadaan ekonominya yang masih belum stabil bahkan bisa dikatakan masih sangat sulit. 

Masyarakat Indonesia hari ini masih sibuk dengan hal – hal aneh dan kurang penting yang membuat hal – hal yang seharusnya urgent bagi warga negara jadi terlupakan. 

Salah satunya kesadaran dan kemandirian dalam penanganan dan antisipasi bencana alam. 

Masyarakat Indonesia hari ini  masih meributkan mengenai pilihan politik, rasisme, masalah moral, konflik agama, caci maki antar warga negara, caci maki kepada pemerintahan. 

Dilain itu para elitnya juga sibuk dengan perebutan kekuasaan, ada yang mau berkuasa, mempertahankan kekuasaaan, dan lain – lain. 

Indonesia masih ribut dan berkutat disitu – situ saja. 

Sehingga kesadaran bahwa kita hidup dinegara yang tingkat bencana alamnya tinggi atau rawan bencana ini menjadi terlupakan oleh hal – hal konyol yang seharusnya sudah lama kita selesaikan. 

Kesadaran akan hidup di wilayah yang rawan bencana saja terlupakan, apalagi mau memikirkan bagaimana penanganan dan antisipasi ketika terjadi bencana alam. 

Berkaca pada Jepang sebagai negara yang juga berada dalam wilayah ring of fire. Jepang memiliki resiko bencana alam berupa gempa bumi dan tsunami yang cukup tinggi. 

Jepang yang merupakan negara maju, memiliki pemerintah dan masyarakat yang sangat sadar terhadap keadaan mereka sebagai negara yang rawan terkena bencana alam. 

Terbukti dengan beragam kegiatan dan infrastruktur yang disiapkan untuk mengantisipasi sewaktu – waktu terjadi bencana alam. 

Mulai dari giatnya simulasi bencana alam bagi masyarakat yang dilakukan sejak dini. 

Pembangunan tsunami shelter, penerapan aturan bangunan tahan gempa, peringatan gempa melalui ponsel, bahkan kereta cepat shinkansen juga dilengkapi pendeteksi gempa yang akan membuat kereta berhenti seketika. 

Satu hal sederhana yang menarik juga ada yaitu pembagian tas atau ransel darurat bencana untuk setiap keluarga. Tas tersebut berisikan berbagai peralatan untuk bertahan hidup seperti senter, obat - obatan, bahan – bahan makanan, selimut, masker, radio dan alat-alat lainya. 

Semua hal tersebut di dukung pula dengan tingkat kesadaran, kemandirian, pendidikan, dan ekonomi masyarakat Jepang yang sudah sangat baik. Sehingga semu agenda dapat dijalankan dengan baik. 

Bagaimana dengan Indonesia ?


Masyarakat Indoensia hari ini memiliki tingkat kesadaran dan kemandirian terhadap bencana alam yang rendah. 

Rata – rata pendidikan masyarakat Indonesia yang tergolong rendah tersebut tentu akan menimbulkan rendahnya tingkat kesadaran dan kemandirian pada sebagian masyarakat terhadap keadaan Indonesia yang merupakan wilayah rawan bencana alam. 

Alih – alih menyiapkan diri untuk melakukan hal - hal dalam mengantisipasi ketika bencana alam datang. 

Malah sebagian besar kelompok – kelompok masyarakat ada yang beranggapan bahwa bencana alam merupakan semata – mata cobaan, ujian atau hukuman dari Tuhan. 

Akibatnya sebagian masyarakat tersebut akan memilih untuk pasrah akan keadaan tersebut tanpa perlu melakukan persiapan atau antisipasi apapun karena dianggap ini sebagai ujian. 

Sebagian lain bukanya sibuk untuk menolong sesama masyarakat yang terkena bencana, tapi malah ribut saling menyalahkan  sesama karena dianggap bencana datang karena hukuman dari Tuhan. 

Ada pula sebagian lain yang hanya menjadi penonton ketika ada masyarakat yang menjadi korban bencana. Hanya sekedar ingin tahu namum tidak ada rasa simpati. 

Rendahnya ekonomi juga berpengaruh terhadap rendahnya kesadaran dan kemandirian masyarakat Indonesia dalam penanganan dan antisipasi bencana. 

Masyarakat Indonesia cenderung menunggu inisiatif datang lebih dulu dari pemerintah tanpa ada kemandirian dari pribadi masing – masing melakukan dan menyiapkan hal – hal untuk antisipasi bencana. 

Kalaupun diberikan tas ransel darurat bencana seperti Jepang yang berisikan bahan – bahan makanan pokok, selimut, obat – obatan, dan alat – alat bertahan hidup lainya. 

Saya yakin, alih – alih menyimpanya dengan baik dan digunakan pada waktunya, masyarakat justru malah akan menggunakan bahan – bahan makanan dalam rensel darurat tersebut untuk keperluan sehari – hari mereka. 

Mereka akan beranggapan dari pada menunggu bencan alam yang tidak tahu kapan akan terjadi, lebih baik dipakai saja untuk keperluan sehari – hari.

Pendeteksi tsunami yang di letakan di tengah lautan guna antisipasi sewaktu – waktu ada tsunami datang pun tidak lama umurnya, hilang diambil oleh entah siapa. 

Tentu hal ini terjadi karena kurangnya pendidikan dan rendahnya ekonomi masyarakat Indonesia hari ini. 

Hal yang sama juga terjadi pada pemerintahan Indonesia.

Pemerintahan hari ini cenderung lebih banyak bergerak dalam penanganan pasca benca alam dan masih kurang dalam gerakan antisipasi bencana alam yang seharusnya dapat meminimalisir korban. 

Hal ini tidak terlepas dikarenakan oleh elit politik negeri ini sendiri. 

Para elit politik baik di dalam maupun diluar pemerintahan Indonesia saat ini masih sibuk dengan politik perebutan kekuasaan atau mempertahankan kekuasaan masing – masing. 

Seperti tidak ada kesepakatan bersama untuk mendahulukan hal – hal yang memang urgent bagi warga negara. Malah saling mengedepankan ego politiknya masing – masing. 

Akibatnya tidak ada kebijakan serius dalam antisipasi bencana. Jangankan membuat shelter, hal sederhana seperti tas ransel darurat bencana saja sepertinya sulit untuk direalisasikan, mengingat rumitnya dinamika politik dan kemungkinan besar dikorupsi para elit – elit tersebut.

C. Kesadaran dan Kemandirian

Solusinya saat ini yaitu membangun pendidikan dan kesadaran masyarakat Indonesia bahwa mereka hidup di wiliyah rawan bencana. Kemudian juga diiringi dengan peningkatan kodisi ekonomi masyarakat. 

Pemerintah dapat menyiapkan infrastruktur dan kebijakan – kebijakan yang dapat menunjang kesadaran dan kemandirian masyarakat mengenai hal ini. 

Sedangkan masyarakat bisa meningkatkan kesadaran dan kemandirianya melalui inisiatif – inisiatif dari tokoh – tokoh dalam setiap kelompok - kelompoknya. 

Masyarakat sebenarnya tergantung tokoh yang ada dalam komunalnya. 

Inisiatif dari tokoh – tokoh yang peduli dan sadar akan bencana alam tentunya akan mendorong dan menginfluent masyarakatnya untuk juga meningkatkan kesadaran dan kemandirianya dalam penanganan dan antisipasi bencana alam tanpa harus menunggu inisiatif dari pemerintah.

Dengan meningkatnya kesadaran dan kemandirian tersebut, diharapkan kedepanya korban yang terdampak akibat bencana alam dapat diminimalisir.
 


Artikel Selanjutnya Artikel Sebelumnya
No Comments :
Add a Comment
Comment url
Related Post :
Sosial