Political Correctness Pisau Bermata Dua



Political correctness atau  dalam bahasa Indonesia bisa diartikan 'Kesantunan Politik' kita singkat PC menjadi istilah yang ramai di perbincangkan dunia akhir - akhri ini, begitu juga Indonesia.

Political correctness muncul menjadi istilah baru dalam kegiatan berkomunikasi seiring dengan perubahan - perubahan yang terus dilakukan manusia dalam hal komunikasi antar sesama. Salah satunya kehadiran sosial media.

Kehadiran sosial media dengan pola komunikasi berbeda yang kemudian diiringi dengan permasalahan sosial yang kerap kali ditimbulkanya, membuat kita harus selalu sadar untuk berhati - hati dengan cara berkomunikasi kita agar lingkungan sosial kita tetap berada dalam nuansa yang selalu positif.

Political correctness bisa diartikan sebagai sebuah upaya dalam berkomunikasi yaitu menggunakan atau memilih bahasa - bahasa yang sekiranya tidak akan menimbulkan ketersinggungan bagi lawan bicara atau sekumpulan orang dalam society.

Penggunaan PC ini secara sadar maupun tidak sering kita praktekan  dalam segala hal di kehidupan sehari - hari maupun dalam masalah - masalah serius  sekalipun seperti  masalah ras, gender, politik, agama dan lain - lain.

Sebagai contoh penggunaan dalam isu rasisme.

Ada beberapa kata - kata yang akhirnya dilarang atau dihindari penggunaanya karena kata - kata ini mengandung rasisme di dalamnya, atau mempunyai kaitan dengan permasalahan rasisme di masa lalu. Seperti kata 'Cina' di Indonesia  dan kata 'Nigger' di Amerika Serikat.

Contoh lainya dalam masalah gender.

Sebenarnya masalah gender tidak terlalu besar di Indonesia, karena penggunaan Political correctness dalam hal ini cenderung penggunaanya ketika berkomunikasi dengan kasus - kasus transgender.  

Orang – orang di Amerika Serikat menggunakan pronounce (kata ganti) 'it' atau 'they' ketika berkomunikasi dengan transgender, karena para transgender beranggap kata ganti 'it' dan 'they' lebih netral dibanding kata ganti 'he' yang cenderung dengan maskulin dan 'she' yang lebih feminim.

Lebih kurang seperti itulah konsep dasar penerapan PC ketika berkomunikasi.

Lalu kenapa Political correctness dianggap sebagai pisau bermata dua ? kenapa hingga kini orang - orang masih memperdebatkan apakah PC sebagai sesuatu yang benar atau justru sesuatu yang salah.

Pisau Bermata Dua

Dalam berkomunikasi, memikirkan perasaan orang lain adalah sesuatu yang harus diperhatikan. Pemilihan kata - kata ketika berkomunikasi penting dilakukan agar tidak menimbulkan rasa tidak nyaman dan ketersinggungan bagi lawan bicara atau oang lain.

Terutama dalam era sosial media. Dengan jaungkauanya yang begitu luas, berapa banyak orang yang akan tersinggung ketika kita memilih menggunakan kata - kata yang kurang tepat.

Meskipun kata - kata yang digunakan mungkin lazim bagi sebagian orang namun ada sebagian lain yang mungkin akan tersinggung dengan pemilihan kata - kata tersebut.

Dengan melakukan kehati - hatian ketika memilih kata dalam berkomunikasi, maka akan menimbulkan kenyamanan bagi orang lain dan  kita akan terhindar dari konflik akibat ketersinggungan salah satu pihak.

Karena saya mengatakan PC sebagai pisau bermata dua maka hal diatas adalah salah satu mata pisaunya. 

Lalu bagaimana dengan mata pisau lainya ?

Penerapan Political correctness bisa saja menjadi hal yang melemahkan kebebasan berbicara dan sekaligus bisa menghilangkan fungsi kritik dalam bermasyarakat maupun bernegara sekalipun. Ketika penggunaanya dilakukan secara berlebihan.

Karena ketika menerapkan PC maka kita akan berusaha menggunakan kata - kata yang tidak menyerang dan sebisa mungkin membuat orang lain atau sekelompok orang selalu terlihat baik.

Sehingga kekurangan - kekurangan yang seharusnya disampaikan, tidak lagi dapat tersampaikan karena takut terjadi ketersinggungan.

Bayangkan hal ini juga diterapkan dalam hal bernegara. Berapa banyak pejabat - pejabat pemerintahan, bahkan negara sekalipun akan ditutup peluang dikritiknya karena alasan akan menyinggung yang bersangkutan.

Sebagai contoh, waktu itu ditengah - tengah ketegangan antara Jepang dengan Tiongkok dan Korea Selatan, pada saat itu pemerintah Jepang menempatkan pasukan AS di Okinawa.

Seorang komedian asal Jepang bernama Daisuke Muramoto menyampaikan kritik tentang  masalah kedaulatan Jepang  dalam keputusan menempatkan pasukan AS di wilayahnya itu.

Muramoto selain dikenal sebagai seorang komedian juga sering aktif dalam menulis esai - esai berbagai topik untuk majalah bahkan pernah membuat pidato publik.

Pada sebuah acara televisi, Muramoto ingin menyampaikan, kenapa Jepang begitu takut Tiongkok dan Korsel akan menginvasi Jepang. Dengan Jepang meminta pertolongan pada AS, pihak Washington akan menganggap Jepang bukan good country melainkan easy country.

Pernyataan Muramoto ini menurut saya tidak ada yang salah. Menurut saya Muramoto hanya mencoba mengingatkan pemerintahan Jepang untuk memperhatikan kedaulatan negaranya agar tidak selalu bergantung dengan negara lain.

Namun yang terjadi malah Muramoto diserang oleh berbagai sarjana dan anggota kongres dengan mencap Muramoto kekanak-kanakan dengan kecerdasan yang rendah.

Inilah bentuk negatif dari PC, kritik yang seharusnya disampaikan terlepas dari benar atau salah, diterima atau tidak, menjadi tidak dapat tersampaikan karena dianggap sesuatu yang menyinggung dan mengakibatkan ketidaknyamanan.

Sekedar di serang dengan dicap kekanak- kanakan hingga memiliki kecerdasan rendah mungkin tidak terlalu masalah. Tapi bagaimana jika sampai ketika ada yang tersinggung malah melaporkan pada pihak berwajib yang berujung dipenjara. 

Hmm .. di Indonesia semoga hal ini tidak terjadi.

Baca Juga : Kenapa Konspirasi Menarik

Kemudian dalam hal beragama. Kali ini saya mengambil contoh dari Indonesia.

Penggunaan kata ‘kafir’ di anggap sebagai hal yang menyerang dan menyinggung kelompok yang bukan beragama Islam di Indonesia.

Padahal kata kafir sendiri sebenarnya berarti orang – orang yang menutup dari untuk beriman kepada Allah, tuhan bagi umat Muslim. Tidak ada kesan yang menyinggung sama sekali menurut saya. 

Selain itu kata kafir ini juga dibahas dalam kitab suci umat Islam dan dianggap sebagai salah satu  hal – hal yang pokok dalam ajaran agama tersebut.

Menghindari pergesekan antar umat beragama memang wajib diusahakan dengan berbagai cara. Termasuk memilih kata-kata yang baik dalam berkomunikas antar umat beragama.

Namun perlu diperhatikan untuk tidak masuk  dalam pos – pos yang menyentuh hal – hal pokok dalam sebuah agama. Karena toleransi tertinggi adalah ketika membiarkan dan tidak mencampuri seseorang dengan kepercayaanya. Untukmu agamamu, untukku agamaku.

Jadi kesimpulanya Political correctness memang baik apabila digunakan untuk hal – hal yang positif. Namun dalam  hal – hal khusus dan lebih serius yang memerlukan kritik dan keterusterangan, PC ini sebaiknya dikesampingkan.

Mental masyarakat yang lembek dan baperan juga bisa terbentuk dari penggunaan Political correctnees ini secara berlebihan.


Artikel Selanjutnya Artikel Sebelumnya
No Comments :
Add a Comment
Comment url
Related Post :
Rubrik