Lagi - lagi Kudeta Partai Demokrat



Tulisan ini entah mengapa masih lanjutan dari artikel yang saya tulis sebelumnya yaitu, Bingung Kudeta Partai Demokrat.

Sebenarnya sudah cukup bagi saya yang awam ini dengan kata 'bingung' sebagai respon terhadap prahara dualisme kepengurusan Partai Demokrat.

Namun otak ini kembali tergelitik sekaligus pertanyaan nakal kembali muncul setelah dengan tidak sengaja mendengarkan video pernyatan salah seorang pendukung presiden Joko Widodo (saya tidak sebut namanya, karena tidak ingin artikel ini menjadi sangat serius seperti baca berita).

Oke lanjut.

Dalam pernyataanya, salah seorang pendukung Jokowi itu mengatakan bahwa drama perebutan kepemimpinan Partai Demokrat ini hanyalah sebuah sandiwara politik SBY semata. Karena menurutnya strategi politik playing victim adalah sebuah keahlian yang dimiliki SBY untuk merebut simpati masyarakat.

Dia menyayangkan KSP Moeldoko malah justru terjebak dalam sandiwara ini, dan dia beranggapan Jokowi harus segera mencopot KSP Moeldoko karena dapat merugikan pemerintahan Presiden Joko Widodo sendiri.

Istilah playing victim inilah yang menimbulkan pertanyaan sekaligus kebingungan baru bagi saya. Apakah SBY  sedang memainkan strategi playing victim atau memang murni hanya permasalahan internal Partai Demokrat saja ?

Tuduhan strategi playing victim SBY ini sebenarnya berawal dari pemilu tahun 2004. 

Pada waktu itu SBY memutuskan untuk mencalonkan diri menjadi calon presiden, dimana saat itu beliau masih menjabat sebagai Menkopolkam cabinet pemerintahan Presiden Megawati Soekarno Putri.

Megawati saat itu kecewa karena seharusnya SBY mundur dari jabatanya, karena SBY kerap kali muncul ditelevisi untuk melakukan sosialisasi pemilu. 

Ada sedikit ketegangan diantara SBY dan Megawati saat itu.

Menurut salah satu pejabat istana, SBY mengeluh karena sering kali tidak diajak rapat kabinet dan merasa dirinya dikucilkan dari lingkungan istana.

Taufiq Kemas, yang merupakan suami Megawati memberikan sebuah pernyataan mengenai keluhan SBY ini. Taufiq Kemas mengatakan SBY seperti 'anak kecil' karena dianggap tidak berani mengatakan langsung kepada Megawati, namun justru malah berbicara di media massa.

Pernyataan Taufiq Kemas ini memunculkan simpati dari masyarakat karena dianggap SBY sebagai pihak yang menjadi korban atau yang terzolimi.

Dari sinilah SBY terus mendapat simpati masyarakat, yang kemudian nama SBY menjadi populer dan terus melambung tinggi hingga akhirnya memangkan pemilu dengan Jusuf Kalla sebagai pasanganya.

Saya tidak tahu apakah itu memang strategi yang dibangun oleh SBY pada waktu itu untuk mendongkrak namanya atau hanya murni kejadian politik semata. 

Namun yang saya tahu istilah strategi playing victim itu muncul begitu saja dari para pengamat politik maupun lawan - lawan politiknya SBY.

Lalu bagaimana dengan permasalahan Partai Demokrat saat ini ? Apakah ini memang strategi SBY untuk menarik simpati dan menaikan elektabilitas AHY atau murni hanya permasalah internal Partai Demokrat semata ?

Baca Juga : Bingung Kudeta Partai Demokrat

Hmm .. sungguh sebuah topik yang menarik untuk menjadi bahan pembahasan.Saya memang punya pandangan pribadi mengenai hal ini, tapi mungkin lain waktu akan saya tuliskan.

Silahkan pembaca sekalian mengamati dan memilik jawaban sendiri mengenai topik ini. karena tulisan ini hanya bertujuan untuk menuangkan kebingungan baru saya terhadap permasalah internal Partai Demokrat.

Oh iya, perlu diingat SBY dikenal sebagai Jenderal ahli strategi loh. 

let's play with your mind. Enjoy
Artikel Selanjutnya Artikel Sebelumnya
No Comments :
Add a Comment
Comment url
Related Post :
Politik