Bingung Kudeta Partai Demokrat



Rebutan pacar sudah biasa. Rebutan warisan sudah biasa, Rebutan partai ?

Perebutan kekuasaan suatu partai politik juga merupakan peristiwa yang biasa, bukan hal baru dan umum terjadi di Indonesia.

Beberapa partai politik pernah terjadi dualisme dalam kepemimpinanya, seperti PKB pada tahun 2008, Golkar tahun 2014, PPP tahun 2014 dan ada beberapa partai politik lainya.

Sekarang giliran Partai Demokrat, yang sedang hangat – hangatnya diberitakan.

Drama perebutan kekuasaan Partai Demokrat dimulai ketika pada 1 Februari 2021 ketua umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menggelar rapat pimpinan khusus dengan pimpinan DPD dan DPC.

Dalam rapat pimpinan itu di bahas mengenai isu adanya upaya pengambil alihan kepemimpinan Partai Demokrat yang sah oleh beberapa orang tokoh dan kelompok-kelompok tertentu.

AHY juga menyebutkan bahwa upaya pengambilan alihan kekuasaan itu didukung oleh salah seorang pejabat tinggi di lingkar istana, salah satunya Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko.

Menindak lanjuti isu ini, kemudian AHY mengirimkan surat kepada Presiden Joko Widodo, meminta klarifikasi keterlibatan Moeldoko dalam upaya kudeta tersebut.

Moeldoko ketika dimintai keterangan tidak menbantah kalau memang pernah terjadi pertemuan antara dirinya dengan kader dan mantan kader Partai Demokrat. Namun mengenai pengambil alihan kekuasaan, Moeldoko membatah hal itu.

Menanggapi surat yang dikirmkan AHY kepada Presdien Jokowi, pihak istana dalam hal ini diwakilkan oleh Menteri Sekretaris Negera Pratikno, menyatakan bahwa istana telah menerima surat tersebut namun pihak istana merasa tidak perlu untuk memberikan jawaban apapun mengenai surat itu.

Susilo Bambang Yudhoyono selaku Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat akirnya angkat bicara mengenai isu ini.

Dalam pidatonya, SBY pun membenarkan bahwa ada upaya pengambil alihan Partai Demokrat oleh beberapa tokoh termasuk di dalamnya KSP Moeldoko. SBY menyebut gerakan ini dengan GPK PD (Gerakan Pengambilalihan Kekuasan Partai Demokrat).

Beberapa hari setelahnya, DPP Partai demokrat memecat tujuh orang kadernya, yang dianggap sebagai pelaku dari GPK PD tersebut.

Mulailah permasalahan Partai Demokrat ini terus bergulir menjadi topik yang panas. Saling tuding terjadi antar sesama kader demokrat, maupun mantan – manta kader Partai Demokrat.

Hingga puncaknya pada 5 Maret 2021, KSP Moeldoko terpilih menjadi Ketua Umum Partai Demokrat yang baru, berdasarkan Konferensi Luar Biasa (KLB) yang dilaksankan oleh sebagian anggota dan mantan kader Partai Demokrat di Deliserdang Sumatra Utara.

Apa yang diributkan kedua kubu Partai Demokrat ?

Permasalahan internal Partai Demokrat ini sebenarnya memberikan kebingungan dan sedikit kelucuan bagi saya. Pertanyaan yang timbul, sebenarnya apa yang ingin direbut ? dan kenapa harus ‘itu’ yang merebut ?

Pertama dari kubu kepemimpinan AHY.

Tidak dapat dipungkiri bahwa Partai Demokrat menjadi besar dan dianggap spesial karena pencalonan diri Susilo Bambang Yudhoyono menjadi presiden Republik Indonesia.

Kemenangan SBY dalam piplres 2004 dan 2009 membuat nama Partai Demokrat melambung dan menjadi salah satu partai yang sangat besar waktu itu.Terlepas dari adanya isu kecurangan  yang ditudingkan oleh pihak lawanya yaitu PDIP.

Tetapi keadaan politik waktu itu memang membuat SBY dianggap layak dan seketika menjadi populer sehingga dapat memenangkan pemilu.

Andil besar SBY terhadap Partai Demokrat inilah yang coba dia wariskan kepada anaknya yaitu AHY. Yang mana tentunya hal ini sangat tidak mungkin dilakukan karena AHY sendiri masih minim sekali pengalaman dan kemampuanya dalam dunia politik.

Sehingga implikasi dari upaya ini mengakibatkan adanya beberapa kader senior Partai Demokrat merasa dikesampingkan dan ada pula beberapa kader yang sampai harus diberhentikan. Inilah yang menimbulkan riak-riak di internal Partai Demokrat itu sendiri.

Partai Demokrat memang menjadi partai yang sangat besar dan spesial ketika SBY maju dalam kontestasi pemilihan presiden.

Namun setelah SBY tidak lagi mencalonkan diri menjadi calon presiden, Partai Demokrat bukan lagi menjadi partai yang spesial seperti dulu.

Ditambah dengan kasus korupsi besar – besaran beberapa oknum kader Partai Demokrat pada masa pemerintahan SBY, membuat elektabilitas Partai Demokrat anjlok dan kehilangan banyak suaranya.

Kedua hal ini membuat Partai Demokrat hari ini tidaklah sebesar dan dianggap sexy seperti dulu. Meskipun ada survey pada Februari lalu yang menyatakan kenaikan elektablitas Partai Demokrat.

Hal inipun dikarenakan banyak blunder yang dilakukan beberapa partai – partai lingkungan istana. Namun kenaikan elektabilitas ini tidaklah terlalu signifikan.

Memang setiap tokoh yang ingin mencalonkan diri pada pilpres 2024 atau sekedar ingin mempunyai positioning perlu kendaran politik berupa partai.

Tetapi pengambilan alihan Partai Demokrat yang elektabilitasnya masih belum pulih seperti dahulu bahkan cenderung masih buruk, merupakan sebuah keputusan yang menurut saya lumayan unik dan sesuatu yang membingungkan. 

Baca Juga :Kewenangan Peradilan Agama Mengadili Non Islam di Indonesia

Selanjutnya dari kubu seberang, yakni kubu KLB Deliserdang.

Sosok ketua umum sebuah partai politik biasanya di isi oleh tokoh – tokoh yang mempunyai kans besar untuk mencalonkan diri menjadi calon presiden.

Sehingga keputusan kelompok KLB Deliserdang menunjuk KSP Moeldoko sebagai ketua umum Partai Demokrat, menjadi sesuatu yang unik dan membingungkan pula.

Karena berdasarkan survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) pada Desember 2020 lalu tentang elektabilitas tokoh –tokoh yang berpeluang menjadi calon presiden 2024, Moeldoko hanya memiliki elektabilitas 0,0 % masih berada di bawah AHY dengan elektabilitas 3,1%.

Karena faktor karir militer ? Sepertinya juga tidak.

Mengutip dari Prof. Salim said, tokoh yang pernah berada diposisi panglima TNI pada masa Presiden Soeharto memang memiliki nilai jual yang lumayan bagus. Namun itu tidaklah berlaku lagi pada saat sekarang ini dan posisi itu dianggap biasa – biasa saja.

Lalu apa yang menjadi pertimbanganya dan apa yang diributkan ?

Sungguh sebuah kebingungan. Merebut partai dengan elektabilitas yang cukup rendah untuk kendaraan politik tokoh yang elektabilitasnya juga sangat rendah.

Namun ini hanya kebingungan saya sebagai seorang awam, yang tidak punya kacamata yang lumayan tajam untuk melihat tujuan – tujuan politik dari fenomena ini.

Jadi, anggap saja fenomena ini sebagai  hiburan politik semata dan bahan untuk belajar.

Dah yuk balik kerja lagi, ada orang – orang yang harus di bahagiakan.

Artikel Selanjutnya Artikel Sebelumnya
No Comments :
Add a Comment
Comment url
Related Post :
Politik