Seekor Kecoa Terbang



" goblok, kemana mata lo ?" maki seorang teman di kursi kemudi.

" waduh, kenapa itu "

" lo tunggu disini, gw mau kejar itu orang."

" udah gausah bro, lagi macet gini gausah bikin tambah kacau. nanti aja kalau udah sampai di cek, lagian ga terlalu parah, paling lecet aja."

Karena dari semalam hujan turun  lumayan deras dan belum berhenti hingga pagi ini, sejumlah ruas jalan yang akan saya lalui basah tergenang air. Genanganya memang tidak terlalu tinggi, tapi cukup membuat perjalan pagi itu tersendat dan menimbulkan kemacetan yang lumayan panjang.

Seperti keadaan macet pada umumnya, para pengguna sepeda motor dengan keunggulan yang dimilikinya akan selalu berusaha mencari celah - celah yang  sekiranya dapat dilalui agar segera keluar dari kemacetan ini.

Kejadian tadi terjadi karena seorang pengendara motor memotong kepala kendaran kami namun footstep sepeda motornya tidak sengaja tersangkut di bagian depan kendaran yang sedang kami tumpangi. Suaranya memang lumayan keras, tapi saya yakin tidak ada kerusakan parah, paling hanya lecet saja.

Kami mencoba memaklumi. Mungkin juga karena masih pagi, dan tidak semua orang bangun dalam keadaan segar setiap harinya kan. 

Untung saja tidak ada emosi  yang diluapkan pagi itu. Sehingga tidak menambah kekacauan dan memperburuk suasana hati yang sudah rumit karena macet ini. 

Ada sebuah cerita menarik yang disampaikan CEO google Sundar Pichai dalam sebuah speechnya, yang mengajarkan saya bagaimana manajemen terhadap suatu masalah akan sangat berpengaruh terhadap kehidupan.

Ceritanya pada sebuah restoran, tiba - tiba ada seekor kecoa terbang entah darimana datangnya hinggap pada seorang wanita yang sedang makan dengan beberapa temanya.

Menyadari hal itu, wanita itu mulai berteriak histeris dan ketakutan. 

Dalam keadaan panik dan gemetar, dia mulai berusaha dengan sangat keras menyingkirkan seekor kecoa terbang itu dengan kedua tanganya. 

Reaksi wanita itu malah menular kepada teman - teman satu mejanya. Mereka yang ada disekitar wanita itu juga mulai ikut -ikutan panik karenanya.

Dengan susah payah wanita itu akhirnya berhasil menyingkarkan kecoa terbang itu. Tetapi kecoa itu sekarang malah hinggap di wanita lain teman satu mejanya.

Sekarang giliran wanita lainya yang melanjutkan drama 'seekor kecoa terbang' itu. Wanita lainya itu juga mulai histeris dan  bersusah payah mencoba menyingkirkan kecoa itu dari tubuhnya.

Mengetahui keributan yang terjadi, seorang pelayan bergegas menghampiri untuk membantu mereka. Setelah beberapa kali usaha akhirnya kecoa itu terlempar ke badan pelayan itu.

Berbeda dengan wanita – wanita tadi, pelayan itu hanya berdiri diam dan mulai memperhatikan pergerakan kecoa itu di badanya.

Setelah memperhatikan beberapa saat,  dengan tanpa keraguan sang pelayan mengambil kecoa itu dengan tanganya lalu membuangnya keluar dari restauran itu.


Setelah kejadian itu Sundar kembali melanjutkan makanya, dan mulai berpikir dan bertanya - tanya akan kejadian tadi.

Apakah kecoa itu yang sepenuhnya bertanggungjawab atas kepanikan yang terjadi ?

Jika ia, lalu kenapa pelayan itu tidak terganggu karenanya ? Pelayan itu malah menanganinya dengan sempurna tanpa mebuat kekacauan baru.

Jelas ini bukan salah seekor kecoa terbang itu. 

Tapi keributan itu terjadi  karena ketidak mampuan orang - orang disekitar wanita itu untuk menangani gangguan yang terjadi oleh kecoa yang mengganggu wanita itu.

Bukan teriakan dari seorang Boss mengganggu saya, akan tetapi ketidakmampuan saya untuk menghadapi gangguan karena teriakan boss itulah yang justru akan mengganggu saya..

Sama halnya dengan kemacetan tadi. bukan kemacetanya yang mengganggu saya, akan tetapi ketidak mampuan saya menhadapi macet itulah yang akan  mengganggu suasana hati saya.

Bukan masalahnya yang menggangu saya. Akan tetapi ketidak mampuan saya dalam menyikapi sebuah masalah yang akan menciptakan kekacauan dalam hidup saya.

Prinsip ini sangat menarik untuk diterapkan dan lumayan berguna ketika menghadapi sebuah masalah.

So ..  be wise on your problems.
Artikel Selanjutnya Artikel Sebelumnya
No Comments :
Add a Comment
Comment url
Related Post :
Rubrik