(Cerita Pendek) Catatan Terakhir


Kakeku meninggal tiga puluh tahun yang lalu. Kakek meninggal waktu ayahku berumur lima belas tahun, sejak saat itu nenek memutuskan untuk tidak pernah menikah lagi, dia benar - benar menutup hatinya dari pria lain dan memilih membesarkan ayahku seorang diri. 

Aku tidak terlalu mengenal kakek, aku hanya mengenalnya dari cerita - cerita yang ayah dan nenek ceritakan. Sebaliknya, aku sangat mengenal nenek, dia wanita yang sangat baik, hebat dan tangguh. 

Nenek membaca banyak sekali novel roman, nenek bisa menghabiskan lima novel dalam sebulan. Kalau aku minta, nenek akan dengan senang hati menceritakanya kembali kepadaku beberapa kisah – kisah dari novel yang dibacanya.

Namun ketika aku bertanya apakah kisah cinta abadi dalam novel- novel yang dibacanya benar - benar ada di dunia nyata,  nenek selalu menjawab "Kamu akan tahu ketika kamu sudah deawasa nanti".

Hari ini neneku meninggal dunia. Abunya kami taburkan di tempat dimana abu kakek di taburkan dulu, di sebuah pemakaman kecil di ujung kota. 

Ditempat itu ada sebuah bangunan tua dari kayu yang berfungsi untuk menyimpan catatan pribadi orang - orang yang abunya di taburkan ditempat itu.

Catatan itu berupa buku kecil dengan kertas berwarna kuning dibalut sampul berwarna coklat yang terbuat dari kulit, disimpan di dalam rak-rak kecil yang diberi nomor sebagai penanda bagi keluarga mendiang. Di dalamnya tertulis nama mendiang, tanggal kematian, riwayat penyakit, dan nama dari pasangan hidupnya. 

Disebelahnya terdapat kolom khusus dimana pada kolom itu pasangan hidup mendiang akan menuliskan catatan - catatan kecilnya disana.

Ayahku menemukan buku catatan pribadi kakek disalah satu rak, dan kami mulai membacanya. Aku tesentak menemukan tulisan yang ditinggalkan nenek di buku itu tiga puluh tahun yang lalu.

"Sampai kita bertemu lagi"

Aku tidak  tahu bagaimana kakek dan nenek dulu bersama, tapi dari kalimat itu cukup membertahuku bahwa itu  sebuah ikatan yang sangat kuat dan abadi.

Ayah dari tadi hanya terdiam, tampak kesedihan diraut wajahnya "lalu apa yang akan kita tuliskan di bagian ini di buku nenek" ? tanyaku

Air matanya mengalir ketika mulai menuliskan kalimat itu.

"Kita bertemu lagi"


Artikel Selanjutnya Artikel Sebelumnya
No Comments :
Add a Comment
Comment url
Related Post :
Cerita Pendek