Asal Mula Tumbal



Beberapa minggu belakangan ini Indonesia mengalami curah hujan yang sangat tinggi. Bagi saya yang tinggal di daerah panas, turun hujan meski dalam curah yang tinggi sekalipun sampai saat ini belum menjadi masalah. Bahkan bersyukur karena daerah panas ini dalam beberapa waktu kedepan akan terasa sejuk.

Tentu berbeda dengan yang dirasakan daerah – daerah lain di Indonesia, yang mungkin sedang terkena dampak buruk dari tingginya curah hujan, seperti terendam banjir atau tanah longsor.

Keadaan beberapa waktu belakangan ini mengingatkan saya kembali dengan pengalaman unik dengan kebiasaan warga di suatu daerah. Mengantisipasi masalah yang dapat ditimbulkan oleh curah hujan tinggi, dengan melakukan kegiatan yang dianggap budaya setempat namun beraroma ‘klenik’.

Waktu itu 2016. Saya orang yang malas untuk pergi keluar kalau tidak ada keperluan yang mendesak. Tapi entah mengapa pada saat itu saya sudah berada dalam perjalan ke salah satu daerah di ujung selatan Jawa Barat bersama dengan dua kawan saya sebut saja Anggi dan Irfan.

Ini bukan kemauan pribadi, melainkan karena ada sedikit unsur penipuan yang dilakukan  kawan – kawan ini agar saya bisa ikut mereka waktu itu. Mungkin alasan itu lebih tepat di gunakan di banding menggunakan istilah penculikan.

Saat itu curah hujan sama seperti keadaan saat ini, dalam seminggu hujan turun hampir setiap hari dan dengan durasi waktu yang cukup lama.

Kami menginap dirumah salah satu keluarga Anggi. Katanya, tidak jauh dari wilayah rumah itu banyak objek wisata yang belum ada atau masih jarang terpublikasi media. 

Mengunjungi tempat – tempat wisata itulah agenda kami dua hari kedepan.

Kami sampai disana beberapa menit sebelum masuk waktu magrib. Kedatangan kami disambut guyuran hujan yang lumayan lebat dan senja yang menghitam.

Setelah membersihkan diri, ibadah, dan makan malam bersama, kami ngobrol – ngobrol ringan diruang tamu sambil nonton tv. Hujan masih terus mengguyur dengan lebat, bahkan belum ada tanda – tanda akan berhenti malam itu.

Sedang asyik ngobrol dan mengatur rencana esok hari, Anggi menuju dapur dan kembali dengan membawa tiga butir telur.

“ woy temenin gw keluar, hujanya ga berhenti – berhenti nih.” kata Anggi

“ mau kemana gelap – gelap gini, hujan pula.” sahut Irfan

“ ini gw mau lempar telur – telur ini keluar biar hujanya berhenti, takut banjir atau longsor. ” jawab Anggi.

“ jaman sudah modern gini masih ada saja yang percaya tumbal – tumbal gini ” jawab Irfan

“ ini bukan tumbal, ini budaya. Kebiasaan orang sini. Ayo buruan ” kata Anggi

“ tetap saja namanya tumbal “ sahut Irfan 

Saya yang sedang asik dengan handphone waktu itu tidak terlalu memperdulikan percakapan mereka. Bahkan tidak ingin terlibat.

Sempat terjadi perdebatan singkat diantara mereka. Hingga Irfan mulai mengganggu ketenangan saya.

“Bro, kasih tau asal mula tumbal, biar ini anak tercerahkan.” Irfan tiba – tiba bertanya.

Karena akhirnya saya diganggu, dan berharap mereka segera diam, akhirnya saya menurutinya. 

“ Manusia itu unik. Manusia bisa berfikir, saling bekerjasama, dan berkomunikasi dengan tingkat yang lebih tinggi dari spesies makhluk lain di bumi. Manusia bisa berkumpul dan berkomunikasi denga lebih kompleks dari hewan. Sama satu lagi manusia suka gosip.

Kalau hewan lihat singa, dia hewan akan kasih tahu teman – temanya pakai bahasa mereka kalau disitu ada singa.

Tapi kalau manusia beda. Karena manusia suka gosip dan suka melebih – lebihkan sebuah informasi, manusia akan bilang ‘ disitu ada singa. Singa itu itu kuat dan tangguh, singa itu yang akan menjaga kita dari bahaya kelompok lain'.

Biasanya cerita ini dibuat – buat sama pemimpin kelompok. Karena sebuah kelompok  kalau memiliki sebuah cerita yang dipercaya bersama, maka kelompok itu akan lebih mudah untuk dikontrol dan diatur.

Jadi ketika ada orang yang tiba – tiba dimakan singa, maka kelompok itu menganggap sebagai hal biasa dan bahkan bentuk rasa terima kasih karena sudah dijaga. Ini lah bentuk tumbal pertama.

Masalahnya singa ini suatu saat pasti mati. Kalau kelompok ini menganggap singa ini mati, maka kelompok itu akan terpecah. Makanya pemimpin kelompok ini akan bikin cerita baru. Dia akan bilang kalau singa itu telah pergi ke langit dan dari langit singa itu akan menjaga dan mengawasi kita dari sana.

Baca Juga :  Pembuktian Perkara Verstek Perceraian, Perlukah ?

Cerita seperti ini pasti lebih cepat untuk dipercaya. Karena ‘singa itu diatas langit.’ Mereka akan menganggap singa itu abadi, karena tidak ada yang dapat memastikan singa itu dilangit hidup atau mati, dan akan selalu menjaga mereka dari sana. 

Ketika terjadi bencana atau musibah, barulah kelompok itu akan mengait – ngaitkan dengan sosok singa diatas langit tadi. Mereka akan beranggapan kalau singat penjaga kita mungkin marah, mari kita haru hibur dia dengan hal - hal yang disukainya waktu masih hidup. Agar singa itu menjaga dan mengawasi kita kembali.

Singa itu suka makan manusia waktu masih hidup, mari kita kasih dia manusia.

Lalu pertanyaanya bagaimana mengirimkan manusia ini kelangit ?

Tentu saja dengan cara yang sama seperti singa itu ke langit, yaitu harus mati. Maka mulai lah kelompok itu mencari orang - orang yang akan dibunuh untuk dikirimkan pada sosok singa penjaga mereka.

Begitu terus hingga sekarang. Itu asal mula tumbal.

Tumbal manusia memang sudah jarang di dengar, tapi produk turunanya kan banyak. Ya kaya lempar telur ini.” 

Ini sebenarnya hanya cerita yang saya karang saja. Tapi saya tidak menyangka kalau cerita yang sebenarnya saya karang dan tidak ada landasanya ini, ternyata di tanggapi serius dan malah dipercayai oleh mereka.

“ masuk akal kan, makanya berdoa saja semoganya cepat berhenti hujanya “ kata Irfan

“ iya juga , masuk akal  “ jawab Anggi

“ jadi gimana, masih mau lempar telur ? tanya Irfan lagi

Baaaaaannggg !!! suara petir tiba – tiba menggelegar seketika dan memekakan telinga. Obrolan itu terhenti.

Kami bertiga terkejut. Saya dan Irfan spontan kemudian berjalan kearah pintu.


“ayok ayok lempar telurnya, kita temani, buruan “ 


Artikel Selanjutnya Artikel Sebelumnya
No Comments :
Add a Comment
Comment url
Related Post :
Rubrik